Selasa, 08 November 2011

NFS (Network File System )

A.      Pendahuluan
NFS adalah salah satu layanan yang dapat memungkinkan suatu komputer melakukan proses mount direktori atau peralatan pada komputer lain. Network File System awalnya dikembangkan oleh Sun Microsystems pada tahun 1984. NFS memungkinkan seorang user pada komputer klien untuk mengakses file dalam sebuah  jaringan, seperti halnya mengakses local storage. Hal ini dapat terjadi melalui proses exporting (Proses dimana NFS server menyediakan remote client dengan akses terhadap file di dalamnya) dan mounting.

Tujuan NFS adalah untuk memungkinkan terjadinya pertukaran sistem berkas secara  transparan antara mesin-mesin independen. Hubungan yang terjadi didasarkan pada hubungan client-server, menggunakan perangkat lunak NFS server dan NFS client yang berjalan di atas workstation. NFS didesain agar dapat beroperasi di lingkungan yang heterogen, bersifat independent terhadap system operasi, atrsitektur jaringan, dan transfer protocol. Artinya, sistem yang menggunakan NFS service bisa saja dibuat oleh vendor yang berbeda, menggunakan sistem operasi yang berbeda, dan terhubung pada arsitektur jaringan yang berbeda. NFS umumnya menggunakan protokol Remote Procedure Call (RPC) yang berjalan di atas UDP dan membuka port UDP dengan port number 2049 untuk komunikasi antara client dan server di dalam jaringan. Client NFS selanjutnya akan mengimpor sistem berkas remote dari server NFS, sementara server NFS mengekspor sistem berkas lokal kepada client. Mesin-mesin yang menjalankan perangkat lunak NFS client dapat saling berhubungan dengan perangkat lunak NFS server untuk melakukan perintah operasi tertentu dengan menggunakan request RPC. Adapun, hal-hal yang dapat dilakukan oleh NFS adalah sebagai berikut:
- Mencari berkas di dalam direktori
- Membaca kumpulan direktori
- Memanipulasi link dan direktori
- Mengakses atribut berkas
- Membaca dan menulis berkas.

Fungsi uama Network File System adalah:
- Melakukan File sharing antara komputer-komputer yang terhubung dalam sebuah jaringan.
- Menjembatani akses data secara bersamaan dari server yang berbeda-beda.

 Keuntungan Network File System
- Local workstation menggunakan disk space yang lebih sedikit karena data-data yang banyak digunakan bisa disimpan pada satu mesin dan tetap dapat diakses oleh yang lain melalui jaringan.
- User tidak perlu membuat home directory terpisah untuk setiap mesin pada jaringan. Cukup membuat satu pada NFS server dan dibuat agar dapat diakses oleh seluruh mesin.


B.       Tujuan

- Mahasiswa mampu memahami pengertian, tujuan dan kegunaan dari Network File System    (NFS)
- Mahasiswa mampu menginstall NFS
- Mahasiswa mampu mengaplikasikan NFS
- Mahasiswa mampu membuat jaringan sederhana.


C.      Cara Install / Pengerjaan

Setting Network File Sharing -NFS – di sisi Server/Host

1. Instal Paket NFS
#sudo apt-get install nfs-kernel-server nfs-common portmap

2. Konfigurasi paket portmap
#sudo dpkg-reconfigure portmap

(pilih no jika ditanya untuk bind loopback)

3. Edit file /etc/exports
#sudo vi /etc/exports

Sisipkan parameter2 berikut untuk akses full read-write dari beberapa client
/Data 192.168.2.1/24(rw,no_root_squash,async)
- /Data >> lokasi folder yg akan di shared
- 192.168.2.1/24 >> IP client yg boleh akses shared folder (192.168.2.2 – 192.168.2.254)
- (rw,no_root_squash,async) >> Permissions attribute, dalam hal ini full read-write
untuk akses read-only dari hanya satu Client, sisipkan parameter berikut
/Data 192.168.2.2 (ro,async)

4. Restart dan aktifkan NFS Server
#sudo /etc/init.d/nfs-kernel-server restart

#sudo exportfs -a

Setting Network File Sharing – NFS – di sisi Client

1. Instal Paket NFS Client
#sudo apt-get install portmap nfs-common

2. Konfigurasi paket portmap
#sudo dpkg-reconfigure portmap

(pilih no jika ditanya untuk bind loopback)

3. Buat folder lokal untuk me-mount shared folder di server
#sudo mkdir /media/Data

4. Mount manual shared folder di server ke folder lokal
#sudo mount 192.168.2.1:/Data /media/Data

- 192.168.2.1 >> ip address NFS server
- /Data >> Shared folder pada NFS server
- /media/Data >> mount point pada Client

5. Restart portmap dan NFS Client
#sudo /etc/init.d/portmap restart

#sudo /etc/init.d/nfs-common restart

6. Edit file /etc/fstab untuk automount pada saat restart/booting
#sudo vi /etc/fstab

sisipkan parameter berikut
192.168.2.1:/Data /media/Data nfs rw,hard,intr 0 0

Sampai tahap ini seharusnya anda sudah bisa sharing atau berbagi file dan folder dengan komputer Linux lainnya di jaringan lokal anda,


Referensi :

Selasa, 01 November 2011

DHCP (Dynamic Configuration Protocol)

  1.  Pendahuluan
DHCP (Dynamic Configuration Protocol) adalah layanan yang secara otomatis memberikan nomor IP kepada komputer yang memintanya. Komputer yang memberikan nomor IP disebut sebagai DHCP server, sedangkan komputer yang meminta nomor IP disebut sebagai DHCP Client. Dengan demikian administrator tidak perlu lagi harus memberikan nomor IP secara manual pada saat konfigurasi TCP/IP, tapi cukup dengan memberikan referensi kepada DHCP Server.
        
         Pada saat kedua DHCP client dihidupkan , maka komputer tersebut melakukan request ke DHCP-Server untuk mendapatkan nomor IP. DHCP menjawab dengan memberikan nomor IP yang ada di database DHCP. DHCP Server setelah memberikan nomor IP, maka server meminjamkan (lease) nomor IP yang ada ke DHCP-Client dan mencoret nomor IP tersebut dari daftar pool. Nomor IP diberikan bersama dengan subnet mask dan default gateway. Jika tidak ada lagi nomor IP yang dapat diberikan, maka client tidak dapat menginisialisasi TCP/IP, dengan sendirinya tidak dapat tersambung pada jaringan tersebut.
          
           Setelah periode waktu tertentu, maka pemakaian DHCP Client tersebut dinyatakan selesai dan client tidak memperbaharui permintaan kembali, maka nomor IP tersebut dikembalikan kepada DHCP Server, dan server dapat memberikan nomor IP tersebut kepada Client yang membutuhkan. Lama periode ini dapat ditentukan dalam menit, jam, bulan atau selamanya. Jangka waktu disebut leased period.
         
          DHCP Client akan mencoba untuk mendapatkan “penyewaan” alamat IP dari sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:

1. DHCPDISCOVER: DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast untuk mencari DHCP Server yang aktif.

2. DHCPOFFER: Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client, DHCP server kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.

3. DHCPREQUEST: Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari salah satu alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang bersangkutan.

4. DHCPACK: DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan mengirimkan paket acknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan sebuah alamat (dan konfigurasi TCP/IP lainnya) kepada klien, dan memperbarui basis data database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan tumpukan protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat IP, klien pun dapat memulai komunikasi jaringan.

          Empat tahap di atas hanya berlaku bagi klien yang belum memiliki alamat. Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni tahap pembaruan alamat (address renewal), yang jelas lebih cepat prosesnya.

Berbeda dengan sistem DNS yang terdistribusi, DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.

Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.
Catatan: DHCP server harus memiliki alamat IP yang statis.

Kelebihan DHCP

1. Memudahkan dalam transfer data kepada PC client lain atau PC server. DHCP menyediakan alamat-alamat IP secara dinamis dan konfigurasi lain.

2. DHCP memungkinkan suatu client menggunakan alamat IP yang tidal bisa dipakai oleh client yang lain.

3. DHCP memungkinkan suatu client menggunakan satu alamat IP untuk jangka waktu tertentu dari server.

4. Menghemat tenaga dan waktu dalam pemberian IP.

5. Mencegah terjadinya IP conflict.

Kekurangan DHCP

Semua pemberian IP bergantung pada server, maka dari hal itu jika server mati maka semua komputer akan disconnect dan saling tidak terhubung

  1. Tujuan
Tujuan dari praktikum materi DHCP tentunya terdapat beberapa aspek yang harus dicapai yaitu
  1. Mahasiswa mampu menginstall DHCP
  2. Mahasiswa mampu mengaplikasikan DHCP
  3. Mahasiswa mampu membuat suatu jaringan sederhana

  1. Cara Instalasi

    • Masuk ke terminal dengan memilih Application > Accessories > Terminal.
    • Selanjutnya ikuti langkah-langkah berikut:

Step 1 : Install DHCP Server

Sudo apt-get install dhcp3-server

Step 2 : Open File : /etc/dhcp3/dhcpd.conf

Sudo nano /etc/dhcp3/dhcpd.conf

Step 3 : Edit it..

# A slightly different configuration for an internal subnet.
subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.0.100 192.168.0.200;
option domain-name-servers 192.168.0.5;
option domain-name "debian.com";
option routers 192.168.0.5;
# option broadcast-address 10.5.5.31;
# default-lease-time 600;
# max-lease-time 7200;
}

Step 4 : Save it with CTRL + X , then restart dhcp

Sudo /etc/init.d/dhcp3-server restart

Praktikum di Lab:
Setelah DHCP di install dengan perintah pada step 1 yaitu
#sudo apt-get install dhcp3-server

Maka terlebih dulu mengecek IP pertama sebelum dhcp digunakan. Tujuannya hanya melihat perubahan IP setelah dhcp digunakan,tentunya dengan perintah :
#ifconfig

Hasil


Kemudian melakukan konfigurasi dengan perintah
#sudo nano /etc/dhcp3/dhcp.conf

Hasil



Tujuan konfigurasi diatas untuk menentukan range IP yang akan digunakan atau batasan IP.

Setelah itu file diatas di Save dengan ctrl X, kemudian restart dengan perintah
#sudo /etc/init.d/dhcp3-server restart

Hasil

Apabila IP nya belum berubah maka kita lakukan perintah :
#sudo nano /etc/network/interfaces

Isi dari perintah diatas sebagai berikut 


Kemudian di save dengan crtl X, selanjutnya lakukan restart, seperti gambar dibawah

Setelah selesai maka dapat di cek kembali apakah terjadi perubahan IP yang kita miliki dengan perintah : #Ifconfig

Hasil


Maka terlihat pada gambar diatas bahwa terjadi perubahan.

Oke sekian materi dari saya…semoga bermanfaat.. gomawo ^^

Referensi